Suasana neraka sangat banyak dijelaskan didalam ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk hakikatnya, suasananya, kondisi para penghuninya, dan berbagai macam siksaan yang ada didalamnya, dengan tujuan sebagai peringatan bagi umat manusia. Kondisi para penghuni neraka dibagi dua, yaitu yang kekal di dalamnya selamanya dan yang diberi ampunan setelah mendapat siksaan bagi orang muslim yang fasik tetapi masih ada keimanan di dalam hati mereka (bukan dosa syirik). Bentuk siksaan mereka kadarnya sama hanya berbeda waktunya, yang hanya Allah Maha Tahu dan Maha Menentukan Waktunya, dan neraka jahannam tidak pernah padam selamanya, firman Allah:
•
Artinya: “dan Barangsiapa yang ditunjuki Allah, Dialah yang mendapat petunjuk dan Barangsiapa yang Dia sesatkan Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam Keadaan buta, bisu dan pekak. tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.
Makna ونحشرهم يوم القيامة على وجوههم (dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka). Al-Qurthubî berkata: “mereka pada hari kiamat akan diseret ke neraka dengan mukanya sebagaimana dilakukan di dunia kepada orang-orang yang hina”. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, dari Anas bin Malik:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ « أَلَيْسَ الَّذِى أَمْشَاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِى الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » . قَالَ قَتَادَةُ بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا
Artinya: “sesungguhnya seseorang yang bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana orang kafir bisa dikumpulkan dengan berjalan di atas kepalanya pada hari kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Dzat yang menjadikan (orang kafir) berjalan dengan kakinya ketika di dunia, Maha Kuasa untuk menjadikan dia berjalan dengan wajahnya pada hari kiamat?” Qatadah berkata, “Ya, Demi keagungan Rabb kami”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Maksud ayat كلما خبت زدناهم سعيرا (tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya). Al-Qurthubî menyebutkan bahwa nyala api tidak pernah berkurang, begitu pula panasnya dan azab didalamnya pun tidak pernah menjadi ringan atau berhenti.
• •
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): "Rasakanlah sentuhan api neraka!" (setyawan)





