Site Map

Muliakan diri dengan Al Qur'an

Dari `Umar rd berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Qur`an) dan Allah merendahkan kaum yang lainnya (yang tidak mau membaca, mempelajari dan mengamalkan Alquran).” (HR Muslim).

Urgensi Bahasa Arab

Bahasa Arab adalah bahasa kesatuan kaum muslimin sedunia, bahasa yang digunakan untuk komunikasi Allah SWT dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) berupa al-Quran. Bahasa yang telah dipilih oleh Allah SWT ini adalah bahasa yang paling kaya dan sempurna di antara bahasa-bahasa yang ada di bumi ini.

Menyesallah sekarang..!!

Waktu begitu cepat belalu tanpa kita sadari, seiring bertambahnya hari, bulan dan tahun, semakin habis masa kita di dunia ini, dan tak terasa pula dosa-dosa sudah kian bertambah, apa persiapan kita untuk menemui Allah Sang pemilik jiwa ini.

Kata Mutiara, Motifasi hidup

Ambillah hikmah dari setiap masalah , ambillah pelajaran dari setiap kegagalan , jadikanlah semua itu sebagai pengalaman dimasa depan .

Gambaran kecil tentang NERAKA

Suasana neraka sangat banyak dijelaskan didalam ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk hakikatnya, suasananya, kondisi para penghuninya, dan berbagai macam siksaan yang ada didalamnya, dengan tujuan sebagai peringatan bagi umat manusia.

Rabu, 31 Desember 2014

Hadits 1: Muliakan diri dengan Al-Qur'an

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ عُمَرُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Dari `Umar rd berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Qur`an) dan Allah merendahkan kaum yang lainnya (yang tidak mau membaca, mempelajari dan mengamalkan Alquran).”  (HR Muslim).

maksud hadits ini menurut para Ulama adalah: seseorang akan diangkat derajatnya di Dunia dan akhirat dengan Al-Qur'an yaitu orang yang mempercayai kebenaran setiap kata didalamnya, mempelajari, mentadaburi dan mengamalkannya, karena Al-Qur'an merupakakan sumber segala ilmu dan Allah akan mengangkat derajat bagi orang yang berilmu. sebagimana Allah Berfirman dalam surat Al-Mujadilah ayat 11:

bolehkah Talfiq dalam bacaan Al-Qur'an?

Kitab suci Al-Qur’ân yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu merupakan suatu rahmat bagi seluruh alam. Di dalamnya berisi kandungan wahyu Allah yang menjadi petunjuk, pedoman hidup, serta pelajaran bagi siapa saja yang mengimani dan mengamalkannya. Karena itu, setiap orang yang membaca Al-Qur’ân dengan hati yang khusyu’ semata-mata mengharapkan ridla dari Allah, niscaya akan bertambahlah keimanan dan kecintaannya terhadap-Nya.
Dalam membaca Al-Qur’ân, sudah tentu harus memperhatikan aturan-aturannya, karena yang dibaca itu adalah kalamullah yang harus dijunjung tinggi dan dimulyakan.
Imam al-Ghazali mengatakan:
فَالْقَارِئُ يَنْبَغِيْ أَنْ يُحْضِرَ فِى قَلْبِهِ عَظَمَةَ الْمُتَكَلِّمِ وَيَعْلَمَ أَنَّ مَا يَقْرَأَهُ لِيْسَ مِنْ كَلاَمِ الْبَشَرِ
“Sudah sepantasnya bagi orang yang membaca al-Quran untuk menghadirkan keagungan Allah swt. di dalam hatinya dan meyakini bahwa apa yang dibacanya bukanlah perkatan manusia.”
Salah satu aturan dalam membaca Al-Qur’ân ialah menerapkan kaedah-kaedah ilmu Qiro’at sesuai dengan yang diikutinya. Karena itu, pembaca harus mengetahui aturan-aturan tersebut seluas-luasnya, agar tidak mendapatkan kesulitan dalam membaca Al-Qur’ân dan terhindar dari kesalahan bahkan tercampurnya antara bacaan qiro’at yang satu dengan yang lainnya, karena mencampur adukkan bacaan atau talfîq (التلفيق) adalah dilarang dan bahkan haram, makruh dan tercela, Husni Syaikh ‘Utsman dalam kitabnya "Haqqut Tilawah" mengatakan bahwa talfîq dalam bacaan (qirôat) tidak diperbolehkan, lain halnya talfiq dalam madzhab fiqhiyyah sebagian ulama memperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

Senin, 29 Desember 2014

cropped-header_01c_islam
ad-page-001

Sabtu, 27 Desember 2014

Suasana neraka sangat banyak dijelaskan didalam ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk hakikatnya, suasananya, kondisi para penghuninya, dan berbagai macam siksaan yang ada didalamnya, dengan tujuan sebagai peringatan bagi umat manusia. Kondisi para penghuni neraka dibagi dua, yaitu yang kekal di dalamnya selamanya dan yang diberi ampunan setelah mendapat siksaan bagi orang muslim yang fasik tetapi masih ada keimanan di dalam hati mereka (bukan dosa syirik). Bentuk siksaan mereka kadarnya sama hanya berbeda waktunya, yang hanya Allah Maha Tahu dan Maha Menentukan Waktunya, dan neraka jahannam tidak pernah padam selamanya, firman Allah:
                        •       
Artinya: “dan Barangsiapa yang ditunjuki Allah, Dialah yang mendapat petunjuk dan Barangsiapa yang Dia sesatkan Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam Keadaan buta, bisu dan pekak. tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.
Makna ونحشرهم يوم القيامة على وجوههم (dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka). Al-Qurthubî berkata: “mereka pada hari kiamat akan diseret ke neraka dengan mukanya sebagaimana dilakukan di dunia kepada orang-orang yang hina”. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, dari Anas bin Malik:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ « أَلَيْسَ الَّذِى أَمْشَاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِى الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » . قَالَ قَتَادَةُ بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا
Artinya: “sesungguhnya seseorang yang bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana orang kafir bisa dikumpulkan dengan berjalan di atas kepalanya pada hari kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Dzat yang menjadikan (orang kafir) berjalan dengan kakinya ketika di dunia, Maha Kuasa untuk menjadikan dia berjalan dengan wajahnya pada hari kiamat?” Qatadah berkata, “Ya, Demi keagungan Rabb kami”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Maksud ayat كلما خبت زدناهم سعيرا (tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya). Al-Qurthubî menyebutkan bahwa nyala api tidak pernah berkurang, begitu pula panasnya dan azab didalamnya pun tidak pernah menjadi ringan atau berhenti.
•         •      
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): "Rasakanlah sentuhan api neraka!" (setyawan)

Sabtu, 20 Desember 2014

images

 

 

 

unduhan

Kata Mutiara

Ambillah hikmah dari setiap masalah , ambillah pelajaran dari setiap kegagalan , jadikanlah semua itu sebagai pengalaman dimasa depan .

2.      To be a winner , all you need is to give all you have

3.      Raihlah masa depan , dengan berpijak pada saat ini dan bercermin pada masa lalu

4.     Belajarlah dari pengalaman dan berjalanlah di atas kaki sendiri

5.      Jadilah orang biasa yang luar biasa

6.     jangan takut menghadapi masalah , tapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah jika ada masalah

7.     Banyak yang ingin aku berikan , tapi hidup adalah menjalani garis kehidupan

8.      Hidup ini jalan panjang , karena itu kita harus meninggalkan jejak-jejak abadi, jejak langkah yang akan selalu dikenang oleh generasi mendatang, jejak yang akan menjadi ikutan

9.      Hidup ini hanya satu kali , maka tidak ada waktu untuk pesimis , sebab sesungguhnya rintangan adalah tantangan yang harus ditaklukkan oleh setiap pejuang

10.  Senyumlah , karena senyum akan membuat kita selalu tampak sukses

11.   Kerjakan apa yang bisa dikerjakan hari ini, jangan ditunda sampai hari esok

12.  Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela

13.  Dengan ilmu hidup  jadi mudah, Dengan seni hidup jadi indah, Dengan agama hidup jadi terarah

14. Sedikit bicara banyak kerja

15.  Mulailah bekerja dengan menyebut nama Allah

16. Hari ini harus lebih baik dari hari kemerin

17. Shalatlah kamu kamu sebelum kamu dishalatkan orang

18.  Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai keliang lahat

19.  Dengan membaca dapat membuka jendela dunia

20.  Memberi lebih baik daripada meminta

21.  Bertolong-tolonglah dalam kebaikan

22. Disiplin yang tinggi meningkatkan kualitas prestasi diri

23. Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah tumpul

24. Dikala muda kita belajar dikala tua kita mengerti

25. Ridho Allah terletak pada ridho orang tua

Sayyid Abul A’la Maududi

Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim.

Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu fokus tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam.

Sayyid Abul A’la Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada dasawarsa terakhir. Ia lahir dalam keluarga syarif (keluarga tokoh muslim India Utara) di Aurangabad, India Selatan, tepatnya pada 25 September 1903 (3 Rajab 1321 H). Rasa dekat keluarga ini dengan warisan pemerintahan Muslim India dan kebenciannya terhadap Inggris, memainkan peranan sentral dalam membentuk pandangan Maududi di kemudian hari.

Ahmad Hasan, ayahnya Maududi, sangat menyukai tasawuf. Ia berhasil menciptakan kondisi yang sangat religius dan zuhud bagi pendidikan anak-anaknya. Ia berupaya membesarkan anak-anaknya dalam kultur syarif. Karenanya, sistem pendidikan yang ia terapkan cenderung klasik. Dalam sistem ini tidak ada pelajaran bahasa Inggris dan modern, yang ada hanya bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Karena itu, Maududi jadi ahli bahasa Arab pada usia muda.

Pada usia sebelas tahun, Maududi masuk sekolah di Aurangabad. Di sini ia mendapatkan pelajaran modern. Namun, lima tahun kemudian ia terpaksa meninggalkan sekolah formalnya setelah ayahnya sakit keras dan kemudian wafat. Yang menarik, pada saat itu Maududi kurang menaruh minat pada soal-soal agama, ia hanya suka politik. Karenanya, Maududi tidak pernah mengakui dirinya sebagai ‘alim. Kebanyakan biografi Maududi hanya menyebut dirinya sebagai jurnalis yang belajar agama sendiri. Semangat nasionalisme Indianya tumbuh subur. Dalam beberapa esainya, ia memuji pimpinan Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi dan Madan Muhan Malaviya.

Pada 1919 dia ke Jubalpur untuk bekerja di minggua partai pro Kongres yang bernama Taj. Di sini dia jadi sepenuhnya aktif dalam gerakan khilafah, serta aktif memobilisasi kaum muslim untuk mendukung Partai Kongres.

Kemudian Maududi kembali ke Delhi dan berkenalan dengan pemimpin penting Khilafah seperti Muhammad ‘Ali. Bersamanya, Maududi menerbitkan surat kabar nasionalis, Hamdard. Namun itu tidak lama. Selama itulah pandangan politik Maududi kian religius. Dia bergabung dengan Tahrik-I Hijrah (gerakan hijrah) yang mendorong kaum muslim India untuk meninggalkan India ke Afganistan yang dianggap sebagai Dar al-Islam (negeri Islam).

Pada 1921 Maududi berkenalan dengan pemimpin Jami’ati ‘Ulama Hind (masyarakat ulama India). Ulama jami’at yang terkesan dengan bakat maududi kemudian menarik Maududi sebagai editor surat kabar resmi mereka, Muslim. Hingga 1924 Maududi bekerja sebagai editor muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam.

Di Delhi, Maududi memiliki peluang untuk terus belajar dan menumbuhkan minat intelektualnya. Ia belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Jami’at mendorongnya untuk mengenyam pendidikan formal agama. Dia memulai dars-I nizami, sebuah silabus pendidikan agama yang populer di sekolah agama Asia Selatan sejak abad ke delapan belas. Pada 1926, ia menerima sertifikat pendidikan agama dan jadi ulama.

Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Dia juga tak lagi percaya pada nasionalisme India. Dia beranggapan bahwa Partai Kongres hanya mengutamakan kepentingan Hindu dengan kedok sentimen nasionalis. Dia ungkapkan ketidaksukaannya pada nasionalisme dan sekutu muslimnya.

Sejak itu, sebagai upaya menentang imperialisme, Maududi menganjurkan aksi Islami, bukan nasionalis. Ia percaya aksi yang ia anjurkan akan melindungi kepentingan muslimin. Hal ini memberi tempat bagi wacana kebangkitan.

Pada 1925, seorang Muslim membunuh Swami Shradhnand, pemimpin kebangkitan Hindu. Swami memancing kemarahan kaum muslimin karena dengan erang-terangan meremehkan keyakinan kaum muslimin. Kematiannya Swami menimbulkan kritik media massa bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi pun bertindak. Ia menulis bukunya yang terkenal mengenai perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam, Al Jihad fi Al Islam. Buku ini berisi penjelasan sistematis sikap Muslim mengenai jihad, sekaligus sebagai tanggapan atas kritik terhadap Islam. Buku ini mendapat sambutan hangat dari kaum muslimin. Hal ini semakin menegaskan Maududi sebagai intelektual umat.

Sisa terakhir pemerintahan muslim pada saat itu kelihatan semakin tidak pasti. Maududi pun berupaya mencari faktor penyebab semakin pudarnya kekuasaan muslim. Dia berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru untuk melindungi kaum muslimin.

Gagasannya ia wujudkan dengan mendirikan Jama’at Islami (partai Islam), tepatnya pada Agustus 1941, bersama sejumlah aktifis Islam dan ulama muda. Segera setelah berdiri, Jama’ati Islami pindah ke Pathankot, tempat dimana Jama’at mengembangkan struktur partai, sikap politik, ideologi, dan rencana aksi.

Sejak itulah Maududi mengosentrasikan dirinya memimpin umat menuju keselamatan politik dan agama. Sejak itu pula banyak karyanya terlahir di tengah-tengah umat. Ketika India pecah, Jama’at juga terpecah. Maududi, bersama 385 anggota jama’at memilih Pakistan. Markasnya berpindah ke Lahore, dan Maududi sebagai pemimpinnya. Sejak itu karir politik dan intelektual Maududi erat kaitannya dengan perkembangan Jama’at. Dia telah “kembali” kepada Islam, dengan membawa pandangan baru yang religius.

(Sumber : Majalah Percikan Iman No. 4 Tahun I Oktober 2000)

Jumat, 19 Desember 2014

CATATAN PERJALANAN SEORANG PENGHAFAL AL QUR'AN

Sungguh, kita tidak tahu dari mana asal datangnya rahmat dan barakah Allah. Sebelumnya saya tidak pernah berpikir bisa menghafal Al Quran sampai sekarang. Dulu niat saya setelah lulus kuliah adalah bisa menjaga hafalan saya yang hanya sekitar tiga juz, atau kalaupun bertambah mungkin hingga sekitar lima atau sepuluh juz. Bayangan semacam itu sudah terasa begitu istimewa bagi saya. Tapi, perjalanan waktu mengantarkan pada sesuatu yang lebih baik daripada yang pernah saya perkirakan. Bisa jadi, ini adalah salah satu bentuk barakah Allah.


Sebelumnya, ada beberapa teman yang memandang aneh, “Habis dari Jepang kok malah masuk pondok pesantren?” Namun celetukan itu yang kemudian membuat saya berpikir, mungkin justru karena dari Jepanglah pikiran saya lebih terbuka untuk berinteraksi lebih dekat dengan Al Quran. Ternyata berat untuk istiqomah di negeri asing, bagaimana bertahan untuk tetap menjalankan ibadah seperti di tanah air dengan memberikan penjelasan yang tepat untuk orang asing, bagaimana menjaga perut kita dari segala makanan dan minuman yang syubhat, bagaimana menjaga semangat beribadah di tengah sepinya kajian-kajian keislaman. Sungguh, itu tidak mudah. Untuk menjaga iman, di sanalah saya mulai konsisten tilawah satu juz perhari. Dan ternyata efeknya memang luar biasa.
Selanjutnya saya juga mendapat kesempatan untuk mengajar muslimah-muslimah mualaf Jepang membaca Al Quran. Tidak akan terlupakan bagaimana heroiknya pengalaman mengejar-ngejar jadwal kereta Jepang, menempuh jalan mendaki dan panjang menuju masjid di luar Tokyo, serta merasakan ukhuwah islamiyah di sana.  Subhanallah, terharu dengan semangat mereka belajar Al Quran meski dengan lidah mereka yang tidak biasa untuk mengucap huruf-huruf Al Quran. Pengalaman mengajar itu membuat saya sadar bahwa ilmu membaca Quran saya masih belum mencukupi untuk memberikan pemahaman yang benar, bagaimana hukum-hukum tajwid, makharijul huruf, ataupun tentang metode pengajaran yang cocok. Sehingga setelah pulang ke Indonesia saya kembali masuk ke halaqoh-halaqoh Quran untuk belajar lebih dalam.
Menjelang lulus, saya berencana untuk pulang sambil ikut halaqoh Quran dekat rumah. Namun, Allah berencana lain, sebuah tawaran untuk menghafal Al Quran di Jakarta ternyata didukung penuh oleh ibu saya. Maka berangkatlah saya ke Jakarta setahun yang lalu, menemukan berbagai suka duka dan Alhamdulillah Allah masih memberikan kekuatan untuk bertahan hingga sampai saat ini. Ustadz dan teman-teman selalu memberikan motivasi untuk terus menghafal Quran hingga selesai 30 juz.
Berinteraksi dengan para penghafal Quran memberikan warna baru dalam hidup saya. Saya semakin menyadari bahwa Al Quran sungguh-sungguh mukjizat dari Allah, kumpulan kalam-kalamNya yang mulia, terkandung banyak pelajaran, kisah, dan hikmah yang bisa diambil oleh siapapun yang mau berpikir. Mempelajari, membaca, dan menghafal Al Quran ternyata tidak sampai berakhir di mulut dan tenggorokan saja ketika melantunkannya. Menghafal Al Quran itu seperti proses memasukkan kalam-kalam itu dalam dada, sehingga kelak dapat menjiwai dan mengamalkan apa yang Allah perintahkan lewat tuntunan wahyuNya. Sering muncul ketakutan bahwa saya menghafal Quran namun belum mempraktekkannya, maka saya sering berharap agar Allah merahmati kami dengan Al Quran, agar apa yang dihafal benar-benar mampu memberi kekuatan ruhiyah di hari-hari ke depan, ketika sudah tidak tinggal di pesantren, atau ketika tuntutan dakwah semakin besar. Bahkan yang lebih penting, agar Al Quran dapat memberikan syafaat pada diri kita dan orang tua kita di hari tidak ada pertolongan nanti.
Saya sering berpikir bahwa ketika memutuskan untuk menghafal Al Quran, berarti telah terikat kontrak seumur hidup, untuk terus berinteraksi dengan Al Quran. Sungguh, apa yang telah dihafal itu terasa mudah hilang. Harus diikat dengan ikatan yang kuat, dibaca berulang kali, ditadabburi artinya lagi, ditilawahkan, dan terus diulang sepanjang hayat agar tidak hilang. Tidak terbatas hanya pada saat kita masih tinggal di pesantren, atau ketika terikat dengan halaqoh Quran. Maka di masa-masa inilah saat untuk memperkuat tekad, agar kelak di manapun kita berada kita tidak putus berinteraksi dengan Al Quran. InsyaAllah.
Kalau saya merasa sedih karena tidak bisa menghafal sebaik teman-teman yang lain, saya pikir mungkin ini cara Allah untuk membuat saya lebih banyak mengulangnya, agar lebih dekat dengan Al Quran. Guru saya dulu juga sering mengingatkan bahwa sebagai seorang penghafal Quran harus lebih berhati-hati dengan segala yang diharamkan, menjaga kehalalan makanan yang masuk dalam tubuh, termasuk menjaga pandangan dan pendengaran. Karena bisa jadi ketidakhalalan itu yang membuat kita menjadi susah menghafal.
Semakin lama menyelami Al Quran, semakin banyak kita mengenal sifat-sifat Allah, petunjuk-petunjuk untuk meraih surgaNya, serta kisah-kisah yang dapat diambil pelajarannya. Untuk segala ketakutan menghadapi tantangan hidup, ada harapan bahwa interaksi kita dengan Al Quran saat ini yang akan menjadi sebab turunnya rahmat dan barakah Allah, yang akan memudahkan segala urusan hidup kita, yang akan jadi bekal untuk berbuat lebih banyak kemanfaatan. Dan saya masih terkesan dengan kata-kata seorang teman, “Kalau kita mau meluangkan hidup untuk mengurusi Al Quran, maka Allah yang akan mengurusi urusan kita.” Maka apa yang perlu diresahkan lagi, kalau segala urusan telah kita jaminkan pada Allah?
Semoga Allah selalu merahmati kita dengan Al Quran, saat ini dan selamanya. Amiin.

Urgensi Bahasa Arab

Bahasa Arab adalah bahasa kesatuan kaum muslimin sedunia, bahasa yang digunakan untuk komunikasi Allah SWT dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) berupa al-Quran. Bahasa yang telah dipilih oleh Allah SWT ini adalah bahasa yang paling kaya dan sempurna di antara bahasa-bahasa yang ada di bumi ini. Suatu bahasa yang tetap akan terjaga asholah-nya (keaslian) sampai hari qiyamat, tak akan terkontaminasi oleh lajunya peradaban dunia. Tidak seperti bahasa lain yang mudah tercemar seiring dengan globalisasi dan majunya peradaban.


Arti penting bahasa Arab sebagai ilmu alat bagi ummat Islam untuk memperdalam diennya merupakan suatu kebutuhan primer yang tak boleh ditawar-tawar. Maka setiap muslim terlebih aktivis dakwah sudah semestinya memulai untuk mempelajari bahasa Arab dan berkutat dengan kitab-kitab kuning utamanya kitab-kitab turast (induk) dalam mendulang lautan ulumul syar’i.
Dahulu ketika dakwah Islam memasuki pusat-pusat peradaban dunia dan membangun kejayaannya nangemilang, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Kala itu bahasa Arab selain resmi menjadi bahasa pemerintahan, juga menjadi bahasa dunia pendidikan, bahasa ilmu pengetahuan serta bahasa rakyat sehari-hari. Padahal negeri-negeri yang dimasuki Islam itu tadinya bukan negeri Arab.
Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah:
?????? ????????????? ???????? ?????????? ??????????? ???????????
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”
Untuk menguasai bahasa Arab itu minimal harus menguasai empat sisi yaitu:
1. Fahmul Masmu’
Maksudnya kita harus mampu memahami apa yang kita dengar. Jadi kalau ada orang Arab membacakan berita di TV atau sedang berdialog dengan orang lain, kita mampu mengerti dan memahaminya , tentunya melalui beberapa tahapan.
2. Fahmul Maqru’
Maksudnya kita harus mampu memahami teks yang kita baca. Sehingga buku, kitab, majalah, koran atau teks apapun yang tertulis dalam bahasa Arab, mampu kita pahami, tentunya dengan kaidah bahasa arab yaitu “Nahwu dan Shorof”.
3. Ta’bir Syafahi
Maksudnya kita mampu menyampaikan isi pikiran kita dalam bahasa Arab secara lisan, dimana orang Arab mampu memahami apa yang kita ucapkan.
4. Ta’bir Tahriri
Maksudnya kita mampu menyampaikan pikiran kita kepada orang Arab dengan bentuk tulisan, dimana orang Arab bisa dengan mudah memahami maksud kita dalam bentuk tulisan.
Hukum Mempelajari Bahasa Arab
Syaikhul Islam Berkata: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.” (Kaidah Ushul Fiqh)
Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.” Umar juga berkata: “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian”.
Biasanya, alasan paling klasik dalam mempelajari Bahasa Arab adalah lamanya masa belajar dan rasa bosan yang dengan cepat menghantui para pelajar. Apalagi ditambah dengan padatnya aktiftitas peserta di luar jam kursus, sehingga biasanya lembaga kursus itu menyelenggarakan pengajaran bahasa dengan cara non-intensif. Kursus diselenggarakan seminggu sekali, atau seminggu dua kali. Sekali pertemuan hanya 2 atau 3 jam saja. Dilihat dari sisi keintensifannya saja, sudah terbayang kegagalannya.
Terkadang diantara kita ada yang secara teori mungkin menguasai dasar-dasar gramatika bahasa Arab, tetapi secara dzauq (taste), kemampuan mereka amat terbatas. Banyak sekali diantara kita yang mampu berbicara dalam bahasa Arab, terutama dari dunia pesantren namun dengan ta’bir (cara pengungkapan) yang bukan digunakan oleh orang Arab. Sehingga orang Arab sendiri pun kalau mendengarnya agak berkerut-kerut dahinya sampai 10 lipatan.
Jadi kesimpulannya adalah kita harus mempelajari bahasa Arab itu dari semua sisi, bukan hanya berbicara tanpa memerhatikan kaidahnya tetapi yang lebih penting adalah bagaimana bisa menerapkan Bahasa ini sesuai dengan kaidah yang benar, sehingga bisa dipahami oleh semua orang terutama orang Arab sendiri.
Tetapi dengan niat dan tekat yang bulat InsyaAllah masalah-masalah tersebut bias diatasi, sehingga kita bisa mempelajari bahasa Arab yang mana bahasa yang telah di pakai oleh para Ulama’- Ulama’ terdahulu dalam menyampaikan dan memahami kandungan Al Qur’an dan Al Hadits.
Semoga Allah SWT mempermudah kita dalam mempelajari agamanya termasuk perantaranya yaitu berupa Bahasa Arab. Amieenn.. Wallahu A’lam (Setyawan) - See more at: http://www.nurulhikmahciputat.com/2013/12/urgensi-bahasa-arab.html#sthash.9WcxgTnh.dpuf

Bolehkah wanita haidh membaca Al-Qur’an?

Sebenarnya ini merupaka masalah khilafiyah dikalangan Ulama’, sebagian kecil dari mereka mengharamkan membaca Al Qur’an bagi wanita yang sedang haidh, tetapi Jumhur Ulama berpendapat bahwa  wanita yang sedang haidh boleh membaca Al Qur’an, lebih-lebih adanya sesuatu keperluan yang mengharuskannya membaca, seperti takut lupa hafalan Al Qur’annya, muroja’ah, ujian, Ruqyah (pengobatan), dengan syarat tidak menyentuhnya. Karena Mushaf tidak boleh disentuh melainkan dengan keadaan suci, dan jika mengharuskan mereka untuk menyentuh mushaf hendaknya menyentuh dengan alas, sepeti: sarung tangan yang bersih, sapu tangan atau yang sejenisnya.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah Rahimahulloh berkata: “sesuatu yang lazim bahwa perempuan-perempuan pada zaman Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka haidh dan beliu tidak melarangnya untuk membaca Al Qur’an, sebagaimana tidak dilarangnya mereka untuk berdzikir dan berdo’a, bahkan mereka diperintahkan untuk keluar pada hari raya ‘Ied dan bertakbir bersama orang-orang muslimin lainnya” (Majmu’ fatawa: 21/460)
Beliau juga berkata: “tidak ada larangan untuk wanita haidh membaca Al Qur’an baik dalil dari Al Qur’an maupun Sunnah. Dan sungguh wanita-wanita pada zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam mereka haidh dan tidak dilarang membaca Al Qur’an, seandainya membaca waktu haidh dilarang (haram) sebagaimana diharamkannya sholat, pastilah sudah disampaikan oleh  Nabi untuk ummatnya dan diketahui oleh ummul mu’minin (istri-istri Nabi). Jadi selama tidak diketahui dasar hukum (dalil) dari Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang larangan itu maka seseorang tidak boleh mengharamkan (melarangnya), Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui wanita-wanita haidh dan tidak melarangnya membaca Al Qur’an itu menunjukkan bukan perbuatan yang diharamkan (larangan)” (Majmu’ Fatawa: 26/191)
Ulama’ Al Lajnah Ad Daimah lil Ifta’ berkata: “Bagi wanita haidh boleh membaca Al Qur’an dengan hafalan tanpa memegang mushaf  secara langsung, dikarenakan ada sebab yang mengharuskannya untuk membaca agar tidak lupa dengan hafalannya”. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah: 4/232).
Syikh bin Baz Rahimahulloh berkata: “bagi wanita haidh dan nifas boleh membaca Al Qur’an dengan hafalan, karena jangka waktu keduanya lama (dikhawatirkan lupa), dan sedangkan diqiyaskan dengan junub itu kurang tepat, maka dari itu bagi seorang siswi tidak mengapa membaca Al Qur’an, begitu juga pengajar ketika ujian maupun tidak. membaca dengan hafalan tanpa memegang mushaf, tetapi jika mengharuskan keduanya memegang mushaf maka tidak mengapa dengan syarat menyentuhnya dengan alas” (majmu’ fatawa ibn baz: 6/360).
Syaikh ibn ‘Utsaimin Rahimahulloh berkata: “bagi wanita haidh dibolehkan membaca Al Qur’an baik dengan tafsir maupun bukan tafsir jika dikhawatirkan hafalannya lupa. Jika membaca dengan tafsir tidak disyaratkan dalam keadaan suci, tapi jika membacanya bukan dengan tafsir (mushaf) maka hendaklah antara dia dan mushaf ada alas (pembatas) seperti sapu tangan, sarung tangan atau yang sejenisnya, karena wanita yang sedang haidh dan begitu juga orang yang belum suci tidak diperbolehkan baginya menyentuh mushaf” (fatawa nuur ‘ala Ad darb, ibn ‘Utsaimin: 27/123)
Syaikh ‘Utsaimin Rahimahulloh ditanya tentang hukum membaca Al Qur’an dengan hafalan bagi wanita yang sedang haidh untuk mengharapkan pahala dari Alloh subhanahu wata’ala atau untuk keperluan pengobatan (Ruqyah)?
Beliau menjawab: bagi wanita yang sedang haidh jika membaca Al Qur’an dengan tujuan selain untuk sekedar membaca maka tidak mengapa (membaca karena ada sebab keperluan maka boleh), dan jika untuk keperluan pengobatan (Ruqyah) atau keperluan yang lainnya seperti mengajar, belajar, maka tidak mengapa, karena membacanya dikarenakan ada sebab” (fatawa nuur ‘ala Ad darb, ibn ‘Utsaimin: 21/123)
Jadi tidak ada larangan bagi wanita yang haidh melakukan ruqyah untuk dirinya dengan Al Qur’an dan dzikir-dzikir yang syar’i, dan kalaupun harus membaca dengan mushaf boleh saja degan syarat tidak menyentuhnya kecuali dengan alas (pembatas)
Sedangkan mereka yang tidak membolehkan membaca Al Qur’an bagi wanita haidh, tidak ada dasar yang Shohih, dan mereka mengqiyaskan (menyamakan) dengan hukum junub, (karena bagi seseorang yang junub tidak boleh membaca atau menyentuh Mushaf). Dan itu kurang tepat sebagaimana yang diungkapkan oleh syaikh bin Baz Rahimahulloh. Wallahu ‘alam…
(by: setyawan) - See more at: http://www.nurulhikmahciputat.com/2013/12/bolehkah-wanita-haidh-membaca-al-quran.html#sthash.sbToLBBY.dpuf

MENYESALLAH SEKARANG..!!

Waktu begitu cepat belalu tanpa kita sadari, seiring bertambahnya hari, bulan dan tahun, semakin habis masa kita di dunia ini, dan tak terasa pula dosa-dosa sudah kian bertambah, apa persiapan kita untuk menemui Allah Sang pemilik jiwa ini. Sanggupkan kita menjawab serta mempertanggugjawabkan semua yang sudah kita lakukan selama hidup ini?Tetapi dibalik dosa manusia yang kian bertambah seiring bertambahnya usia mereka, Allah selalu membuka jalan agar mereka bertaubat kepadaNya, menunggu setiap jiwa menghadap kepadaNya dan meminta ampunanNya.
Tak mungkin kita kembali kemasa lalu yang sudah kita isi hari-hari dengan kesalan dan dosa, dan menggantinya dengan perbuatan baik,
tetapi kitapun tak sanggup untuk mempertanggungjawabkan setiap dosa yang sudah kita lakukan, lantas apakan yang harus kita lakukan untuk bertaubat dari masa lalu yang penuh dengan dosa itu? Berikut perbincangan seorang Ulama dengan seorang dalam masalah tersebut, mari kita simak.
Fudhoil bin ‘Iyadh suatu hari bertanya kepada seorang laki laki : “Berapa umurmu telah berlalu?”
Lelaki trsbt menjawab : “60 tahun”.
Fudhoil berkata :”Engkau selama 60 tahun berjalan menuju Rabbmu dan engkau hampir mencapainya”
Lelaki itu berkata “Innalillaahi wainnailaihi raji’uun”.
Fudhoil bertanya :”Apakah kau tahu maknanya?
Engkau telah mengatakan: “Sesungguhnya kita hamba Allah semata, dan kepadaNyalah kita kembali. Barang siapa telah mengetahui bahwa dirinya hamba Allah dan hanya kepadaNyalah dia kembali, maka hendaknya dia juga mengetahui bahwa dia akan berdiri dihadapanNya, barangsiapa mengetahui dirinya akan berdiri dihadapanNya, ketahuilah bahwa dia akan ditanya, maka persiapkanlah jawaban untuk pertanyaan pertanyaan tersebut”.
Lelaki itu bertanya,”Lalu bagaimana jalan keluarnya?”
Fudhoil menjawab : “Mudah”
Dia bertanya lagi : “Apa itu?”
Fudhoil menjawab : “Perbaikilah kehidupanmu yang masih tersisa, semoga Allah mengampuni apa apa yang telah lewat. Sebab,sesungguhnya apabila engkau berbuat jelek pada masa-masa yang tersisa ini, engkau akan dibalas dengan perbuatan perbuatanmu yang kamu lakukan dulu dan pada masa-masa yang tersisa ini.” (setyawan ‘17)
Jaami’ul u’lum wal hikam halaman 519..

Keutamaan Mengkhatamkan Al Quran

Al Qur’an adalah Kitabulloh ‘azzawajalla, dan membacanya merupakan ibadah yang paling utama dan merupakan perbuatan yang paling di sukai oleh-Nya, maka semakin banyak seorang muslim membaca Al Qur’an maka semakin banyak pahala yang mereka dapatkan.

Dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ ، وَلَامٌ حَرْفٌ ، وَمِيمٌ حَرْفٌ. رواه الترمذي (2910) وصححه الألباني

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh kalinya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, akan tetapi Alif itu satu huruf, Lam itu satu huruf, dan Mim itu satu huruf.” (HR. At Turmudzi, di shohihkan Syaikh Al Bani)
Pahala ini akan di dapatkan bagi siapa saja yang membaca seluruh surat surat dari Al Qur’an, tidak terbatas pada surat-surat tertentu, membaca untuk mengkhatamkannya dari awal sampai akhir dalam keadaan santai, dalam sholat dalam keadaan apa saja, dimana dan kapanpun membaca akan mendapatkan pahala tersebut.
Hanya saja yang paling utama adalah jika membaca dari awal hingga khatam seluruh Al Qur’an 30 juz, membaca berurutan sesuai dengan urutan mushaf tidak memilih surat-surat khusus, itulah yang dicontohkan Ulama-Ulama terdahulu, mereka mengkhatamkan Al Qur’an dalam sebulan bahkan lebih cepat dari itu.
Maka sebisa mungkin kita bisa mencontoh mereka itu setelah mengkhatamkan maka mulai dari baru lagi, dan begitu seterusnya. Bahkan mereka adakalanya mengkhatamkan khusus ketika sholat dan membaca untuk mengkhatamkan diluar sholat, atau mengkhatamkan dengan melihat dan mengkhatamkan tanpa melihat (hafalan), atau adakalanya membaca dengan cara hadr (cepat), untuk menjaga kuantitas bacaan dan di lain kesempatan dengan pelan untuk mentadabburi dan memahami apa yang mereka baca sedikit atau banyak, atau dalam bentuk yang lainnya mereka berinteraksi denga Al Qur’an.
Rosululloh Sallallahu’alaihi wa sallam  telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.
Yang sangat disayangkan kalau ada seseorang yang membaca Al Qur’an dengan terburu-buru sehingga terjadi kesalahan dalam membaca atau mengkhususkan surat-surat tertentu yang tidak ada dasar dalil yang shohih, sehingga akan menyelisihi apa yang telah dicontohkan oleh Ulama’ terdahulu.
Rujukan: At-tibyan fii adabi hamalatil Qur’an, oleh: Imam An Nawawi Rahimahullah - See more at: http://www.nurulhikmahciputat.com/2013/12/keutamaan-mengkhatamkan-al-quran.html#sthash.M5codoUM.dpuf

Balasan Perbuatan Baik & Buruk Manusia

baik bruknya amal“Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al An’am: 160) Dalam hadits qudsi, Ibnu Abbas ra. meriwayatkan dari Rasulullah SAW dari apa yg beliau riwayatkan dari Allah SWT, “Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla telah menetapkan kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya.
Barangsiapa yg berkeinginan untuk berbuat kebaikan, kemudian dia tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yg sempurna. Jika dia berkeinginan melakukan kebaikan, kemudian ia melakukannya, Allah mencatat untuknya 10-700 kali lipat kebaikan sampai tidak terhingga. Jika dia berkeinginan unt melakukan kejelekan, kemudian dia tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yg sempurna. Jika dia berkeinginan melakukannya (kejelekan), kemudian dia melakukannya, Allah mencatat baginya satu kejelekan”. (HR. Bukhary & Muslim) Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman (kepada malaikat pencatat amal), bila hambaKu berniat melakukan perbuatan jelek, maka janganlah kalian catat sebagai amalnya (amal jelek). Jika dia telah mengerjakannya, maka catatlah sebagai satu keburukan. Dan bila hambaKu berniat melakukan perbuatan baik, lalu tidak jadi melaksanakannya, maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat”. (HR. Muslim 183) Rasululloh Sallallohu’alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga golongan seseorang dalam menghadiri shalat Jum’at, yaitu; seseorang menghadiri shalat Jum’at sambil bicara, maka bicaranya itulah yg menjadi bagiannya, seseorang yg menghadiri shalat jum’at sambil memanjatkan do’a maka itulah orang yg benar-benar memanjatkan do’a kepada Allah ‘azza wajalla, Kalau Dia menghendaki, maka akan di kabulkan atau jika Dia menghendaki maka Dia akan menahannya. Dan orang yg menghadiri shalat Jum’at dgn sikap diam & tenang, tak melangkahi pundak orang lain & tak pula menyakiti seorang pun, maka jum’atnya menjadi penebus dosanya hingga jum’at berikutnya, di tambah tiga hari, yg demikian itu karena Allah ‘azza wajalla berfirman: Barangsiapa melakukan amal kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat. QS Al An’am; 160. [HR. Abudaud No.939]. Imam Ibnu Katsir berkata: seseorang yang berniat melakukan keburukan kemudian dia tidak jadi melakukan keburukan tersebut, ada tiga macam: Pertama: dia meninggalkan kerena Allah, maka baginya tertulis kebaikan untuknya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits shohih: sesungguhnya mereka meninggalkan karena mereka takut kepada-Ku (karena-Ku)”. Kedua: mereka meninggalkan karena lupa, pingsan (tidak sadar) dari apa yang mereka niatkan, maka mereka tidak tertulis baginya kebaikan dan tidak juga keburukan, karena mereka tidak melakukan kebaikan maupun keburukan. Ketiga: mereka meninggalkannya karena lemah atau tidak mampu atau malas untuk melakukannya. Setelah mereka berusaha untuk melkukannya. Maka baginya keburukan / balasan dari apa yang telah mereka lakukan tersebut, (setara dengan melakukan keburukan). Sebagaimana yan telah diterangkan dalam hadits Rasululloh: “Bila dua orang muslim berhadapan dgn pedang, pembunuh dan yg terbunuh ada dineraka. Aku berkata: Atau dikatakan: Wahai Rasulullah, ia yg membunuh (pantas masuk neraka), lalu bagaimana dgn yg terbunuh? Beliau menjawab: Sesungguhnya ia ingin membunuh kawannya.(sudah berniat buruk yaitu ingin membunuh saudaranya karena dendam, dan telah melakukan upaya untuk melakukannya) [HR. Muslim No.5139].” ((by: Setytik ’17)) - See more at: http://www.nurulhikmahciputat.com/2013/12/balasan-perbuatan-baik-buruk-manusia.html#sthash.FgElt9xF.dpuf

Kamis, 18 Desember 2014

Pendaftaran Baru

LTQ ALHIKMAH MENERIMA PENDAFTARAN PESERTA BARU
Periode Rabi’ul Awwal 1436 H / Januari 2015 M


PROGRAM BELAJAR
1. BBQ (Bimbingan Bacaan Al Qur’an)
Bagi yang belum bisa membaca Al Qur’an atau masih sangat terbata-bata.
2. Tahsin Tilawah (Perbaikan bacaan)
Bagi yang sudah membaca namun belum belum sesuai dengan kaidah Tajwid.
3. Tahfizh Al Qur’an (Menghafal)
Bagi yang sudah mahir.
4. Tafsir Al Qur’an (Khusus Akhowat)

PILIHAN WAKTU
1 x pertemuan sepekan (sabtu)
Pagi jam ke-1 : Pukul 06.00 – 08.00
(Putra & Putri)
Pagi jam ke-2 : Pukul (08.30 – 10.30)
(Putra & Putri)
Siang : Pukul 13.30 – 15.30
(Khusus Putri)
2 x pertemuan sepekan
(Senin & Rabu / Selasa & Kamis)
Pagi jam ke-1 : Pukul 06.00 – 08.00 (Putra & Putri)

Pagi Jam ke-2 : Pukul 08.00 – 09.30 (Putri)

Pagi jam ke-3 : Pukul 10.00 – 11.30 (Putri)

Siang : Pukul 13.30 – 15.00 (Putri) / khusus senin & rabu)

(Senin & Rabu / Selasa & Jum’at)
Malam : Pukul 18.30 – 20.15 (Putra)


5 x pertemuan sepekan (Putri)
Senin – Jum’at : Pukul 13.00 – 16.00 (Khusus tahfizh intensif / mulazamah)

SYARAT SYARAT PENDAFTARAN
1. Usia Minimal 16 tahun / setingkat SMA
2. Mengisi formulir pendaftaran
3. Menyerahkan foto 3×4, 1 lebmbar
WAKTU PENDAFTARAN
Pendaftaran :
01 Desember – 4 Januari 2015


Tes Klasifikasi (Khusus calon peserta Baru):
Ahad, 04 Januari 2015
Kuliah Perdana :
Ahad, 04 Januari 2015
Aktif Belajar :
Senin, 10 Januari 2015

TEMPAT PENDAFTARAN
Putra :(Masjid Al Hikmah Lantai 2).
Senin, Selasa, Rabu
Pagi : Pukul 06.00 – 08.00 WIB
Malam : Ba’da Maghrib – 20.30WIB
Kamis 
Pagi : Pukul 06.00 – 08.00 WIB
Jum’at

Malam : Ba’da Maghrib -20.30 WIB
Sabtu 
Pagi : Pukul 06.00 – 10.00 WIB
Putri : (Masjid Al Hikmah Lantai 3)
Senin s.d Kamis dan Sabtu 
Pagi – Sore (07.00 – 15.00)
Jum’at dan Ahad Libur

BIAYA PENDIDIKAN
Pendaftaran : Rp. 50.000,-
SPP / Semester
1 x Sepekan : Rp. 170.000,-
2 x Sepekan : Rp. 200.000,-
Intensif : Rp. 225.000,-
Tafsir : Rp. 125.000,-
Infaq Buku Paket, Ujian dll + Rp. 70.000,- / Persemester.

Cp: 0856 9147 6070 / 021-41707178
Sekretariat Ltq Alhikmah Jl, bangka II No: 24. Pela Mampang Jakarta Selatan 12720. Telp: (021) 41707178